Senin, 06 Oktober 2014

Biografi dan Sejarah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani         

                                  

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad  Nashiruddin  bin  Nuh al-Albani. Dilahirkan  pada  tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. 

Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan  ilmu-ilmu  syari’at  di  ibukota  negara  dinasti  Utsmaniyah  (kini  Istambul), yang  ketika Raja  Ahmad  Zagho   naik   tahta   di   Albania   dan mengubah system pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya  beliau memutuskan  untuk  berhijrah  ke  Syam dalam  rangka  menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau   sekeluargapun   menuju Damaskus. 

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa  arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al Is’af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida’iyah. 

Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur’an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.  

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang  mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya. 

Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah  majalah  yang  diterbitkan  oleh  Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah  menyalin sebuah  kitab  berjudul  “al-Mughni  ‘an Hamli  al-Asfar  fi   Takhrij  ma  fi al-Ishabah  min  al-Akhbar”.  Sebuah  kitab  karya  al-Iraqi,  berupa  takhrij terhadap hadits-hadits yang   terdapat pada  Ihya’ Ulumuddin  al-Ghazali.  Kegiatan  Syeikh  al-Albani  dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut)”.  

Namun  Syeikh  al-Albani  justru  semakin  cinta  terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan  Perpustakaan adh-Dhahiriyah  di  sana  (Damaskus).  Di  samping  juga Meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah,  hadits  menjadi  kesibukan rutinnya, sampai-sampai  beliau  menutup  kios  reparasi  jamnya. Beliau lebih  betah  berlama-lama  dalam  perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap  harinya  mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat     mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya  sedikit  makanan  yang  dibawanya  ke perpustakaan.  

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di  perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara

Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid’ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah. 

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban Syeikh   al-Albani  

Beliau   pernah   mengajar   di   Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak  tahun  1381-1383  H,  mengajar  tentang hadits  dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun  1388  H,  Departemen  Pendidikan  meminta kepada  Syeikh  al-Albani  untuk  menjadi  ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H  hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi   dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 4 Dzulkaidah 1419 H. 

Beberapa Karya Beliau  

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. 

Beberapa Contoh Karya Beliau adalah :

·         Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah 

·         Al-Ajwibah   an-Nafi’ah ‘ala as’ilah   masjid   al-Jami’ah

·         Silisilah al-Ahadits ash Shahihah

·         Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal maudhu’ah

·         At-Tawasul wa anwa’uhu

·         Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha  

Di  samping  itu,  beliau  juga  memiliki  kaset  ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat  dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.  

Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik  berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya  diserahkan ke perpustakaan Jami’ah tersebut dalam kaitannya dengan  dakwah  menuju  al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih, pada saat beliau menjadi pengajar disana. 

Wafatnya  

Beliau  wafat  pada hari  Jum’at  malam  Sabtu  tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal  1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi’ah wa jazahullahu’an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na’im al-Muqim.7   

7 Diambil dari: http://al-madina.s5.com/Kisah/Biografi_Albani.htm; dinukil dari salafyoon-online    

Ijazah Hadits Imam Al-Albany 

Syaikh  Al-Albany  memiliki  ijazah  hadits  dari  ‘Allamah Syaikh Muhammad  Raghib  at-Tabbagh  yang  kepadanya beliau  mempelajari ilmu  hadits,  dan  mendapatkan  hak untuk  menyampaikan  hadits  darinya. Syaikh  Al-Albany menjelaskan  tentang  ijazah beliau     ini  pada  kitab  Mukhtasar  al-‘Uluw  (hal  72)  dan Tahdzir as-Sajid  (hal 63). Beliau  memiliki  ijazah  tingkat  lanjut  dari  Syaikh Bahjatul Baytar (dimana isnad dari Syaikh terhubung ke Imam  Ahmad).  Keterangan tersebut ada dalam  buku Hayah al-Albany (biografi Al-Albany) karangan Muhammad Asy-Syaibani. Ijazah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar ahli dalam hadits dan dapat dipercaya untuk membawakan hadits secara teliti. Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa Syaikh hanya belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah.  

Dalam pembahasan ini, saya pikir tidak mengapa untuk memberikan sedikit gambaran tentang  kehidupan  dan pekerjaan Syaikh Al-Albany agar kita lebih yakin perihal kedudukan beliau dalam bidang ilmu hadits, semisal penghormatan dari ulama-ulama lain yang ditunjukan kepada beliau. Mungkin satu atau dua penjelasan pendek belumlah mencukupi, meski begitu, saya berharap informasi ini cukup menarik dan dapat memberi semangat kepada para pembaca:  

1. Syaikh  Al-Albany  dilahirkan  pada  tahun  1914  M  di Asykodera, ibukota pertama Albania.  

2. Syaikhnya yang pertama adalah ayahnya, Al-Hajj Nuh  An-Najjati, yang telah menyelesaikan    belajar Syari’ah  di  Istanbul  dan kembali  ke Albania  sebagai seorang  ulama  Hanafiyah. Di    bawah bimbingan  ayahnya, Syaikh Al-Albany belajar Quran, tajwid dan bahasa Arab, dan juga fiqh Hanafiyah. 

3. Beliau belajar fiqh hanafiyah lebih lanjut dan bahasa  Arab dari Syaikh Sa’id al-Burhan.  

4. Beliau  mengikuti  pelajaran  dari Imam  Abdul  Fattah dan Syaikh Taufiq Al-Barzah  

5. Syaikh Al-Albany bertemu dengan ulama hadits zaman ini, Syaikh Ahmad Syakir, dan beliau ikut berpartisipasi dalam diskusi dan penelitian mengenai hadits.  

6. Beliau  bertemu dengan ulama  hadits  India, Syaikh Abdus Shamad Syarafuddin, yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya An-Nasai, seperti halnya  karya Al-Mizzi yang monumental,   Tuhfat   al-Asyraf,   yang   selanjutnya mereka berdua  saling  berkirim  surat  tentang  ilmu. Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan   keyakinan   beliau   bahwa  Syaikh   Al-Albany adalah ulama hadits terbesar saat ini.  

7. Sebagai  pengakuan  terhadap  keilmuannya  mengenai hadits, pada tahun 1955 Syaikh Al-Albany ditugaskan di   Fakultas Syariah Universitas Damaskus untuk  menganalisa dan meneliti secara terperinci mengenai hadits-hadits jual beli dan yang berhubungan dengan  transaksi bisnis lain.  

8. Syaikh Al-Albany memulai pekerjaannya secara resmi pada bidang hadits dengan men-transkrip karya monumental Al-Hafidz al-Iraqy, yaitu Al-Mughni ‘an Hamlil-Ashfar -sebuah studi tentang beragam hadits-dan riwayat-riwayat pada karya terkenal Al-Ghazali, Ihya’ Ulumudin. Pekerjaan ini sendiri mencakup lebih dari 5000 hadits.  

9. Syaikh selalu mengunjungi perpustakaan Dhahiriyyah di Damaskus, sehingga kemudian beliau diberi kunci perpustakaan,  karena  beliau sering  berada  di  sana dan  belajar  dalam  waktu  yang  lama. Suatu  hari, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh Al-Albany. Kejadian ini menjadikan beliau mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membuat katalog      seluruh  manuskrip hadits   di perpustakaan  agar folio yang  hilang  tersebut  bisa ditemukan.  Karenanya,  beliau  mendapatkan  banyak ilmu dari 1000 manuskrip hadits, sesuatu yang telah  dibuktikan beberapa  tahun  kemudian  oleh Dr. Muhammad Mustafa A’dhami pada     pendahuluan “Studi      Literatur      Hadits      Awal”,      dimana  beliau mengatakan, “Saya       mengucapkan  terimakasih  kepada Syaikh  Nashiruddin  Al-Albany,  yang  telah menempatkan  keluasan   ilmunya   pada   manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”. 

10. Syaikh Al-Albany kadang-kadang terlihat keadaannya yang amat miskin selama hidupnya. Beliau  mengatakan sering mengambil sobekan-sobekan kertas  dari  jalan–biasanya  berupa  kartu undangan pernikahan-, yang kemudian digunakan untuk menulis haditsnya. Seringkali, dia membeli potongan-potongan kertas dari   tempat pembuangan dan membawanya ke rumah untuk dipakai.

11. Beliau  senantiasa  berkorespondensi  dengan  banyak ulama, terutama yang berasal     dari     India dan  Pakistan,  mendiskusikan hal-hal  yang  berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko dan  ‘UbaiduLlah Rahman,  pengarang  Mirqah  al-Mafatih  Syarh Musykilah al-Mashabih.  

12. Keahliannya dalam bidang haditsvdiakui oleh banyak ulama yang berkompeten,  baik  masa  lalu  maupun  sekarang, termasuk Dr. Amin Al-Mishri, kepala Studi Islam  di  Universitas  Madinah  yang juga  termasuk salah  satu  murid  Syaikh  Al-Albany,  juga Dr.  Syubhi Ash-Shalah,  mantan  kepala  bidang  Ilmu  Hadits  di Universitas Damaskus,  Dr.  Ahmad  Al-Asal,  kepala Studi   Islam   di  Universitas   Riyadh,   ulama   hadits Pakistan  sekarang,  ‘Allamah Badi’uddien  Syah  As- Sindi;  Syaikh  Muhammad  Thayyib  Awkij, mantan kepala Ilmu Tasfir dan Hadits dari Universitas Ankara di Turki; belum lagi pengakuan dari Syaikh Ibn Baaz, Ibnul  ‘Utsaimin, Muqbil  bin  Hadi,  dan  banyak  lagi yang lain pada masa berikutnya.  

13. Setelah sejumlah hasil karyanya dicetak, selama tiga tahun  Syaikh  terpilih untuk  mengajar   hadits   di  Universitas   Islam  Madinah,   sejak   tahun 1381 H sampai 1383 H, dimana beliau juga bertugas sebagai anggota dewan   pengurus universitas  (setelah itu  beliau  kembali  ke tempat studi  pertamanya dan mengkhidmatkan dirinya pada perpustakaan Adh-Dhahiriyyah). Kecintaan beliau pada Universitas  Madinah dibuktikan dengan mewariskan  seluruh  koleksi perpustakaan pribadinya ke Universitas. 

 

14. Beliau mengajar dua kali sepekan di Damaskus, yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dan      dosen  universitas. Di sini, Syaikh menyelesaikan pengajarannya pada karya klasik dan modern (edited):  

o  Fath al-Majid, karya Abdur Rahman bin  Hushain Alu Syaikh 

o  Raudhah an-Nadiyyah karya Siddiq Hasan  Khan

o  Minhaj al-Islamiyah karya Muhammad As’ad  

o  Ushul al-Fiqh, karya al-Khallal    

o  Mustholah at-Tarikh, karya Asad Rustum

o  Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq  

o  Ba’its al-Hadit  karya Ahmad Syakir  

o  At-Taghib  wa  at-Tarhib  karya  Al-Hafidz  Al-Mundziri  

o  Riyadh ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi Al-Imam fi Ahadits al-Ahkam, karya Ibnu Daqiqil ‘Ied  

 

15. Setelah menganalisa hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits India, Muhammad Musthofa A’dhami (kepala Ilmu Hadits di  Makkah), memilih Syaikh Al-Albany untuk memeriksa dan mengoreksi  kembali  analisanya,  dan  pekerjaan tersebut telah  diterbitkan   empat  jilid, lengkap  dengan   ta’liq   (catatan,   red)   dari  keduanya. Ini adalah  tazkiyah dari ulama  yang  lain  atas keilmuan hadits Syaikh Al-Albany. 

16. Pada edisi dari himpunan hadits terkenal, Misykah al-Mashabih, penerbit Maktabah Islamy meminta Syaikh  Al-Albany untuk memeriksa pekerjaan mereka sebelum  diterbitkan.  Pihak  penerbit  telah  menulis  pada bagian  pendahuluan, ”Kami meminta kepada ulama hadits, Syaikh Muhammad  Nashiruddin  Al-Albany,  untuk  membantu  kami  dalam memeriksa  Misykat   dan bertanggung jawab untuk memberi tambahan hadits-hadits yang diperlukan dan meneliti serta memeriksa kembali sumber-sumber dan  keasliannya pada tempat-tempat yang diperlukan, dan membetulkan kesalahan-kesalahan…”  

17. Hasil karya Syaikh yang telah dicetak, terutama pada bidang  hadits dan  ilmu  perangkatnya  (seperti  ilmu Mustholah  Hadits,  Jarh  wa Ta’dil,  Rijalul  Hadits, edit.)   berjumlah   sekitar 2   buku.   Tujuh belas diantaranya  sebanyak  45  jilid.  Beliau  meninggalkan manuskrip minimal tujuh puluh karangan.  

18. Telah   terekam   suatu  kejadian   (dan   kejadian  ini terdapat pada dua kaset – murid-murid beliau sering merekam pelajaran beliau), bahwa seorang laki-laki telah  mengunjungi  Syaikh  Al-Albany  di rumahnya  di Yordania   dan   menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi! Bagaimana reaksi kita  ketika  berada pada situasi ini? Syaikh Al-Albany meminta lelaki itu duduk  dan  mendiskusikan  pernyataannya  tersebut dalam waktu yang lama (seperti yang saya katakan: ada pada dua kaset), sehingga pada akhirnya, si tamu tersebut bertaubat dari klaimnya itu dan semua yang hadir,  termasuk Syaikh  turut menangis. Pada kenyataannya, sudah berapa sering terdengar Syaikh Al-Albany menangis ketika berbicara mengenai Allah, Rasul-Nya, dan muamalah antar Muslim?  

19. Pada kejadian yang lain, beliau dikunjungi tiga orang yang kesemuanya menuduh Syaikh Al-Albany kafir. Ketika waktu sholat tiba, mereka menolak  untuk bermakmum kepada Syaikh, karena tidak mungkin bagi seorang kafir   menjadi imam sholat. Syaikh menerima hal ini, dan mengatakan bahwa  menurut pandangannya,  ketiga  orang  ini adalah Muslim, sehingga  salah  satu  dari mereka berhak menjadi imam sholat. Tak lama kemudian, mereka  bertiga berdebat lama sekali mengenai perbedaan di antara mereka sendiri, dan ketika waktu  sholat berikutnya telah  tiba, ketiga  laki-laki  ini  mendesak untuk  ikut sholat di belakang Syaikh Al-Albany !  

20. Selama  hidupnya,  Syaikh  telah  meneliti  dan men-ta’liq lebih dari 30.000 silsilah perawi hadits (isnaad) pada  hadits-hadits  yang  tidak terhitung  jumlahnya, dan  menghabiskan  waktu  enam  puluh  tahun untuk belajar buku-buku hadits, sehingga buku-buku tersebut menjadi sahabat sekaligus   berhubungan dengan ulama-ulamanya (pengarang kitab-kitab Sunnah tersebut, pent)http://aswajablora.wordpress.com/2013/03/07/mengenal-syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani/                                           

Sumber Artikel : e-book di http://www.shirotholmustaqim.wordpress.com/

0 komentar:

Posting Komentar