SELAMAT DATANG DI BLOG GURU NGAJI YGNI

Guru Ngaji YGNI ada untuk pengembangan dakwah lewat pendidikan Diniyah Formal dan Formal serta pemberdayaan masyarakat.

GURU NGAJI YGNI DAN LAZISWAQ YGNI

Anda Peduli Pendidikan Diniyah buat anak anak di desa dan kampung-kampung salurkan bantuan ke LAZISWAQ YGNI BRI : 6602-01-007030-53-9 AN.Yayasan YGNI.

SAVE PALESTINE-SYURIAH-AFGHANISTAN

Indonesia dicap Sebagai Negara Kafir tapi Paling Giat Membela Palestina Merdeka, Arab Diakui Sebagai Pusat Manhaj Sunnah tapi lembek Membla Saudaranya.

ANDA MUSLIM REAKTIF ? KENAPA TIDAK AKTIF ? KALAU ADA PEMURTADAN BARU RIBUT

Kalau ada non muslim peduli terhadap permasalahan lingkungan baik pendidikan ,Sosial ekonomi dan lainnya anda katakan sebagai pemurtadan tapi anda sendiri tidak peduli terhadap mereka, Itulah Islam Reaktif

KAPAN ANDA PEDULI TERHADAP DAKWAH DAN DHUAFA ?

Uang dan harta anda sering digunakan secara berlebihan bahkan mubazir kenapa tidak untuk menolong sesama.

Tampilkan postingan dengan label Doa-Alquran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa-Alquran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Dalil Yang Dipakai Tahlilan dan Yasinan

Siapa bilang budaya berssdekah dengan menghidangkan makanan selama mitung dino(tujuh hari) atau empat puluh hari pasca kematian itu budaya hindu ?
Di Indonesia ini banyak adat istiadat orang kuno yang dilestarikan masyarakat. Semisal Megangan, pelepasan anak ayam, siraman penganten, pitingan jodo, duduk-duduk di rumah duka dan lainnya. Akan tetapi bukan berarti setiap adat istiadat atau tradisi orang kuno itu tidak boleh atau haram dilakukan oleh seorang muslim. Dalam tulisan sebelumnya al-faqir telah menjelaskan tentang budaya atau tradisi dalam kacamata Syare’at di ; 

http://warkopmbahlalar.com/2011/strategi-dakwah-wali-songo.html. atau di ; 

Tidak semua budaya itu lantas diharamkan, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengadopsi tradisi puasa ‘Asyura yang sebelumnya dilakukan oleh orang Yahudi yang memperingati hari kemenangannya Nabi Musa dengan berpuasa. Syare’at telah memberikan batasannya sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud kalimat “ Bergaullah kepada masyarakat dengan perilaku yang baik “, maka beliau menjawab:  “Yang dimaksud perkara yang baik dalam hadits tersebut adalah :
هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي
“ Beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal selain maksyiat “. Tradisi atau budaya yang diharamkan adalah yang menyalahi aqidah dan amaliah syare’at atau hukum Islam.
Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata
 tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in.
Perhatikan dalil-dalilnya berikut ini :
Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
“ Thowus berkata:  “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
Sementara dalam riwayat lain :
عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا
“ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.
Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.

Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra.

Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw.
Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa:  “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak  sampai kepada Nabi Saw).
Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;
ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.
(al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).
Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.

Kamis, 13 Februari 2014

Cara Menghafal Alquran Untuk Anak

Memiliki anak yang hafal Al-Quran tentu sangat membanggakan di hadapan Allah, karena ia menjadi tabungan amal shalih kelak di akhirat. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah serius dalam menempuh cita-cita tersebut.

Pertama: Bagaimana kita mempersiapkan anak untuk menghafal al-Qur’an?

Proses penyiapan anak untuk hafal al-Qur’an terlihat pada beberapa poin berikut:

-          Menciptakan lingkungan rumah Qur’ani untuk anak. Dalam arti seorang anak tidak akan memberikan perhatian dan cintanya kepada al-Qur’an, selama tidak ada contoh dari keluarganya yang terdiri dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Oleh karena itu hendaknya kedua orangtua harus memulai menghafal dan mempelajari al-Qur’an terlebih dahulu. Pasti setelah itu anak akan belajar dari mereka. Dan hendaknya ada jadwal-jadwal khusus membaca al-Qur’an walaupun hanya beberapa rubu’ (seperempat halaman) saja sehari. 

   Orangtua harus berusaha menghafal al-Qur’an beberapa juz dari al-Qur’an dan konsisten dengannya. Mereka bisa menghafal 10 ayat dalam sepekan dengan berusaha untuk menyetorkan juz yang dihafalkannya itu kepada orang lain. Atau bisa saling berlomba siapa yang bisa menyesaikan juz yang sedang dihafal terlebih dahulu. Dan itu dilakukan dengan disaksikan anak-anak mereka. Bisa juga dilakukan di depan seorang qori atau pakarnya. Entah di rumah atau di masjid. Anak-anak juga harus dibiasakan diajak ke masjid agar mereka juga terbiasa melakukannya. Perlu juga kita ingatkan bahwa hafalan al-Qur’an harus diiringin dengan amal. Sehingga perilaku kedua orang tua sejalan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Para sahabat dahulu tidak sampai melewati 10 ayat al-Qur’an sampai mereka bisa mengamalkan apa yang mereka hafal.

-          Kedua orangtua saling memberi hadiah ketika keduanya menyelesaikan juz yang telah dihafal. Dan hendaknya anak-anak juga mengetahuinya. Atau kalau bisa juga turut serta membelikan hadiah untuk keduanya.

-          Kedua orangtua konsisten mendengarkan program-program radio atau mendengarkan rekaman-rekaman kaset (atau yang lainnya) dan mendiskusikannya di depan anak-anak. Nah dari sini keduanya bisa mengembangkan skill pendengaran pada anak.

-          Memperdengarkan kepada anak suara kaset-kaset rekaman salah seorang qori terkenal dan memiliki suara dan bacaan yang bagus ketika mereka sedang mengerjakan hal-hal yang mereka senangi seperti menggambar (melukis) atau mewarnai.

-          Menggunakan rekaman-rekaman hafalan al-Qur’an di komputer sehingga akan membangkitkan keinginan anak duduk di depan komputer dan melatihnya mengikuti ayat-ayat yang hendak dihafal.

-          Memperkenalkan anak dengan al-Qur’an yang mulia ini. Misalnya tentang kisah turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah saw, jumlah juz-juz dan surat-surat di dalamnya. Serta menceritakan kepadanya beberapa kisah-kisah al-Qur’an seperti kisah dalam surat al-Baqoroh, dua orang pemilik kebuh dan kisah-kisah para nabi.

Kedua: Kapan Seorang Anak Mulai Menghafal Al-Qur’an?

                Sebagian orang mengatakan bahwa anak mulai bisa menghafal al-Qur’an sejak usia 3 tahun. Sementara yang lain mengatakan pada usia empat tahun. Tapi saya yakin menghafal bisa dilakukan sebelum itu dan semuanya tergantung dari pengalaman. Oleh karena itu banyak anak-anak yang cerdas sepanjang sejarah yang telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an di usia-usia ini. Sebagian mereka ada yang hafal pada usia 5 tahun. Dan ini tergantung dari kondisi individunya. Perlu kita ketahui bahwa Allah tidak membeban suatu jiwa melainkan apa yang ia sanggupi. Untuk anak anda hendaknya anda memperhatikan hal-hal berikut: 

·         Kenali sejauh mana kemampuan anakmu dalam mengafal. Pada umumnya, setiap ibu pasti tahu apakah anaknya cepat dalam menghafal, kuat ataukah lemah memorinya? Apabila sekarang anda belum mengenal, maka kenalilah saat ini juga. Apabila anda sudah mengetahui bahwa dia cepat dalam menghafal atau sudah bagus hafalannya –dan itu bisa dilihat dari kemampuannya menyanyikan nasyid-nasyid, lagu-lagu yang ia lihat di TV, radio atau rekaman-rekaman lainnya, maka yang harus anda lakukan adalah:

·         Buatlah perencaaan bersama suami (rencana tahunan, bulan, pekanan dan harian menghafal al-Qur’an) dalam sebuah jadwal yang dipantau oleh mereka misalnya dalam menyelesaikan 6 juz dalam setahun. Atau menyelesaikan hafalan al-Qur’an seluruhnya dalam 5 tahun Insya Allah. Anak bisa menghafal 20-25 ayat dalam sepekan atau sekitar seperempat hizb. Ada orang yang bisa menghafal lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah kadar di atas agar tidak menjadi beban atau kesulitan. Tapi ada juga orang yang tidak memperhatikan ini semua. Tapi saran saya jangan ada paksaan dalam hal ini. Sesuatu yang sedikit tapi tetap dilakukan secara rutin lebih baik dari pada banyak tapi terputus-putus, tidak ada berkah dan cepat lupa karena tidak dijaga.

·         Anak memulai hafalannya dari juz Amma.
·         Anak mendengarkan sampai juz yang sudah ditentukan dalam sehari melalui kaset rekaman 4-5 ayat. Bisa jadi ayatnya akan lebih apabila ayat-ayat yang hendak dihafal adalah ayat-ayat pendek. Dan itu bisa dibiasakan saat sedang mewarnai atau menggambar. Kita tidak harus memaksakan anak duduk mendengarkan ayat-ayat yang akan dihafal dan mengulang-ulanginya.

·         Pada akhir pekan kita bisa melihat ayat-ayat al-Qur’an sudah mulai melekat di benaknya. Akan tetapi hanya butuh pengikatan saja pada ayat-ayatnya. Nah saat itu usahakan anak diajak pergi ke masjid untuk melihat anak-anak lainnya yang juga sedang melakukan apa yang ia lakukan. Dan ini akan membangkitkan semangat perlombaan. “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Qs al-Mutaffifin: 26). Hendaknya anak difokuskan di bawah penanganan seorang guru yang spesialis. Apabila belum memungkinkan, maka ayahnya bisa melakukan hal itu. Dan itu dilakukan pada setiap akhir pekan (weekend). Caranya, anak duduk di depan ayahnya, lalu ayahnya membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian anaknya mengikutinya. Dan umumnya aktifitas ini hanya memakan waktu 20 menit saja. Seyogyanya ini dilakukan secara terus-menerus dan jangan sampai meninggalkannya sampai anak benar-benar melakukannya dengan baik. Ini dilihat dari satu sisi. Dari sisi lainnya, agar terbentuk pada anak kebiasaan membaca al-Qur’an, menjaga, memelihara dan mencintainya. Akan lebih bagus lagi apabila kegiatan ini dilakukan dengan sesuatu yang disukai anak, misalnya mengajaknya jalan-jalan atau rihlah di akhir pekan. Saya tidak bermaksud mengajaknya rihlah atau jalan sebagai syarat ia menghafal. Sebagaimana saya juga mengingatkan keharusan membangkitkan semangat kegembiraan dan gairah terhadap kegiatan ini tanpa mengurangi sedikitpun perasaan menghormati dan menjunjung tinggi dari yang dibaca.

·         Mengapresiasi anak ketika ia bisa melakukan hafalannya lebih cepat dengan kata-kata yang baik, penuh pujian dan mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya itu akan membahagiakan kedua orangtuanya sebelum ia mendapatkan ridho dari Tuhannya. Atau bisa juga dengan mentraktirnya makan di luar rumah.
·         Mengadakan pesta setelah ia berhasil menghafal satu juz.

·         Agar hafalan al-Qur’an tidak mudah hilang, maka kita harus menjaganya dengan murojaah secara berkesinambungan. Anak harus melakukan murojaah hafalannya setiap pekan dengan cara yang sudah saya sebutkan di atas. Ia juga harus melakukan murojaah bulanan. Murojaah dilakukan dengan mendengarkan kembali ayat-ayat yang dihafal pada 3 hari terakhir dalam sebulan, lalu dengan cara yang juga disebutkan sebelumnya. Seorang ayah hendaknya menyimak hafalan anak di sela-sela bulanan. Akan lebih bagus lagi apabila proses murojaah ini dilakukan dalam bentukmusabaqoh (perlombaan) yang diadakan, misalnya di masjid dan memberikan hadiah-hadiah secara simbolis.

·         Berperan sebagai pengganti guru tahfiz -ini berfungsi sebagai motivasi bagi anak yang pandai dalam tilawah al-Qur’an dan hafal beberapa juz al-Qur’an secara itqon. Seperti misalnya dengan cara menjadi guru tahfiz pada juz ini bagi siapa saja yang belum hafal di antara saudara-saudaranya atau teman-temannya di masjid dengan syarat berada dalam bimbingan ayah atau seorang syekh di masjid.

Ketiga: Bagaimana Mengatasi Rasa Bosan?

                Jarang sekali rasa bosan hinggap dalam jiwa seorang anak ketika ia menghafal, kalau kita mengikuti metode yang lalu. Karena kita tidak menganjurkannya ia untuk banyak duduk dan mengulang-ulang kecuali hanya satu kali saja sepekan. Itu juga dikarenakan hafalan sudah melekat di dalam dirinya dengan sesuatu yang ia senangi. Adapun apabila ada sesuatu yang meresap seperti futur (patah semangat) atau bosan, maka kita harus membahas dalam beberapa perubahan, misalnya:

·         Apabila anak dihinggapi rasa futur maka pertama kali janganlah kedua orang tua memperlihatkan perhatiannya akan hal itu. Akan tetapi keduanya tetap fokus pada cara yang dilakukan (membaca al-Qur’an harian, hafalan dan mengkhatamkan tilawah dan seterusnya). Jangan sampai jadwal keduanya berubah, merubah metode yang digunakan atau memperlihatkan kesedihan terhadap anak yang futur menghafal. Tapi mereka harus terus menyibukkan rekaman-rekaman ayata al-Qur’an kepada anak sebelum tidur.

·         Hendaknya seorang anak belajar menyibukkan sendiri ayat-ayat yang akan dihafal melalui rekaman. Kemudian melakukan kegiatan menggambar, mewarnai atau membantu ibunya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dalam keadaan tetap mendengarkan ayat.

·         Masjid mengadakan program rihlah khusus. Di perjalanan anak-anak selalu diperdengarkan ayat-ayat –kalau bisa- untuk memastikan hafalan al-Qur’an mereka. Hal itu juga bisa dilakukan di mobil ketika pergi dalam salah satu rihlah keluarga di akhir pekan. Orangtua seyogyanya menjadi teladan dalam hal ini. Ayah meminta ibu untuk mengulangi ayat-ayat yang sudah dihafal dan sebaliknya ayah juga melakukan hal yang sama. Kemudian anak.

Keempat: Bagaimana kita membantu meningkat konsentrasi pada anak?

                Apabila anak anda tidak bisa menghafal dengan baik, maka anda harus mengikuti cara-cara sebelumnya dan anda harus:

a.       Membuat planning menghafal yang sesuai dengan kemampuan anak, misalnya menghafal rubu hizb (seperempat hizb) dalam dua minggu sebagai ganti dari seminggu.
b.      Mengulang-ulang ayat lebih dari sekali sebelum tidur. Hendaknya ini menjadi terakhir dari apa yang ia dengar sebelum tidur.
c.       Tidak membentak anak apabila lambat dalam menghafal.
d.      Memberikan apresiasi setiap kali ia bisa menghafal lebih cepat.
e.      Menambah jumlah ayat yang hendak dihafal dalam sehari sebagai ganti dari 2 ayat. Jadikan ia 4 ayat. Teslah anakmu bagaimana responnya dengan penambahan ini. Apabila tidak terjadi kesalahan apapun, teruskanlah ia untuk melakukan cara-cara itu. Jika ia tidak bisa menjawab (pertanyaan), kembalilah ke peraturan yang ia sanggupi.
f.        Bagilah ayat-ayat yang panjang menjadi beberapa penggal sampai bisa memudahkan hafalan.

Dan terakhir saya menasehi rekan-rekan pemerhati tarbiyyah untuk bersabar dan tabah. Karena ini adalah kunci kesuksesan hakiki bagi anak.

         Melihat dari pentingnya masalah pendidikan Al-Quran ini kepada masyarakat, maka ada beberapa masalah yang akan diberikan solusinya melalui Pendirian Lembaga ini:
  1. Kurangnya kepedulian anak-anak dan remaja pada pendidikan Al-Quran, karena sibuk pada kegiatan Sekolah Umum.
  2. Ketidakmampuan membaca Al-Quran karena tidak adanya bimbingan secara khusus dengan metode yang tepat guna.
  3. Anggapan bahwa menghafal Al-Quran itu sangat sulit, dan butuh waktu sangat lama untuk dapat menghafalnya.
  4. Anggapan bahwa menjaga Al-Quran itu tidak penting dan tidak menjanjikan masa depan.

Senin, 10 Februari 2014

Doa-Doa Dalam Alquran

Di bawah ini beberapa hal utama yang sebaiknya kita panjatkan dalam do’a kita, disertai dasar dari ayat al-Qur’an yang relevan.

1. Mohon dijauhkan dan dijaga dari pengaruh Syaitan

رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٲتِ ٱلشَّيَـٰطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ


Dan Katakanlah: "Wahai Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu’minun: 97-98)



2. Mohon ditambahkan Ilmu

رَّبِّ زِدۡنِى عِلۡمً۬ا

"Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)



3. Mohon diampuni karena berlebihan dalam pekerjaan

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِىٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

"Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Ali Imran: 147)



4. Mohon diberikan Kesabaran

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرً۬ا وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ


"Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)". (QS. (Al-A’raf: 126)



5. Mohon diberi Keteguhan Pendirian

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرً۬ا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

"Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250)



6. Mohon dilapangkan dada dan dimudahkan dalam setiap urusan

رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِى صَدۡرِى وَيَسِّرۡ لِىٓ أَمۡرِى وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةً۬ مِّن لِّسَانِى يَفۡقَهُواْ قَوۡلِى

"Wahai Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25-28)



7. Mohon diampuni Dosa diri sendiri, Orang tua, dan Orang-orang beriman

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيً۬ا يُنَادِى لِلۡإِيمَـٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّا‌ۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَڪَفِّرۡ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ

"Wahai Rabb kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (QS. Ali Imran: 193)

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِى وَلِوَٲلِدَىَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ

"Wahai Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim: 41)



8. Mohon ditunjukan jalan bersyukur dan beramal shaleh yang diridhai

رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ

"Wahai Rabbku, tunjukilah aku agar mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaf: 15)



9. Mohon tidak dibebani melebihi kemampuan

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرً۬ا كَمَا حَمَلۡتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ‌ۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ‌ۚ أَنتَ مَوۡلَٮٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ


"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah : 286)



10. Mohon kebaikan di dunia dan akhirat

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari adzab Neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201)



Demikian 10 poin utama yang sebaiknya kita mohonkan kepada Allah disaat kita berdo’a, selebihnya kita bisa memohon hal-hal lainnya
wa sholallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi ajma'in.