SELAMAT DATANG DI BLOG GURU NGAJI YGNI

Guru Ngaji YGNI ada untuk pengembangan dakwah lewat pendidikan Diniyah Formal dan Formal serta pemberdayaan masyarakat.

GURU NGAJI YGNI DAN LAZISWAQ YGNI

Anda Peduli Pendidikan Diniyah buat anak anak di desa dan kampung-kampung salurkan bantuan ke LAZISWAQ YGNI BRI : 6602-01-007030-53-9 AN.Yayasan YGNI.

SAVE PALESTINE-SYURIAH-AFGHANISTAN

Indonesia dicap Sebagai Negara Kafir tapi Paling Giat Membela Palestina Merdeka, Arab Diakui Sebagai Pusat Manhaj Sunnah tapi lembek Membla Saudaranya.

ANDA MUSLIM REAKTIF ? KENAPA TIDAK AKTIF ? KALAU ADA PEMURTADAN BARU RIBUT

Kalau ada non muslim peduli terhadap permasalahan lingkungan baik pendidikan ,Sosial ekonomi dan lainnya anda katakan sebagai pemurtadan tapi anda sendiri tidak peduli terhadap mereka, Itulah Islam Reaktif

KAPAN ANDA PEDULI TERHADAP DAKWAH DAN DHUAFA ?

Uang dan harta anda sering digunakan secara berlebihan bahkan mubazir kenapa tidak untuk menolong sesama.

Sabtu, 15 Februari 2014

Alquran Ditinggalkan Karena Keduniaan

“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diacuhkan (ditinggalkan)" QS. Al-Furqan: 30

Sesungguhnya Allah SWT memuliakan umat ini dengan banyak keistemewaan. Satu di antara keistemewaan itu bahkan yang teragung adalah diturunkannya Al-Qu’an. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang orisinalitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini patut dibanggakan, karena kitab-kitab suci agama lain telah terkontaminasi ulah tangan manusia. Semua kitab suci mereka telah mengalami perubahan berupa penambahan atau pengurangan di dalamnya.

Setelah Allah memuliakan umat ini, kebanyakan umat ini malah tidak memuliakan dirinya. Padahal Allah SWT telah menfasilitasi dengan sumber kemuliaan, yaitu Al-Qur’an. Umat ini banyak mengacuhkan Al-Qur’an layaknya apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin dulu. Al-Qur’an kian diabaikan dan ditinggalkan. Hukum halal dan haramnya tidak ditaati.

Ayat di atas merupakan keluh kesah Rasul SAW kepada Allah tentang perlakuan kaum musyrikin Makkah kala itu. Betapa kuat pertentangan kaumnya. Betapa hebat respon penolakan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca. Mereka menuduh Rasul SAW tukang sihir dan ayat-ayat itu adalah mantra-mantranya.  Mereka juga mengklaim Rasul SAW sebagai ahli syair yang pandai merangkai kata demi kata sehingga menjadi indah dan enak didengar. Rasul SAW sangat terpukul atas semua respon itu. Keluhan beliau akhirnya direkam sendiri oleh Allah dalam Kitab-Nya.

Jauh setelah Rasul SAW tiada, kondisi kita tampak makin parah. Al-Qu’an kian ditinggalkan. Bukan hanya oleh kaum kuffar, namun juga kaum Muslimin sendiri. Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan beberapa fenomena umat ini yang bisa dikategorikan termasuk meninggalkan Al-Qur’an. Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Furqan: 30 (Maktabah Syamilah)

Pertama, mereka yang apabila dibacakan Al-Qur’an malah memperbanyak obrolan dan perkataan sia-sia. Tujuannya agar tidak mendengar Al-Qur’an.

Adab atau sikap yang seharusnya diperhatikan ketika Al-Qur’an dibacakan adalah menyimaknya dengan sepenuh hati.

”Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204) 

Al-Qur’an adalah kalamullah yang agung. Rahmat darinya tidak akan turun, melainkan dengan menyimaknya dengan seksama tatkala ia dibacakan. Untuk itu, demi menghindari sikap yang tidak pantas terhadap Al-Qur’an, sebaiknya ia tidak dibaca di majelis senda gurau, karena mugkin sekali Al-Qur’an akan diacuhkan di tempat itu. Ia hanya layak dibaca di majelis ilmu atau zikir.

Kedua, tidak mentadabburi dan berusaha memahaminya.

Tujuan membaca Al-Qur’an adalah untuk ditadabburi isinya sekaligus memahaminya. Dengan mentadabburi kita tahu kapan kita perlu tersenyum, kapan kita meneteskan air mata, kapan kita memanjatkan permohonan, atau kapan kita meminta perlindungan. Tanpa tadabbur, Al-Qur’an layaknya tak lebih dari sebuah buku tebal yang dibaca tetapi tak dimengerti isinya. Mengabaikan usaha untuk tadabbur Al-Qur’an adalah salah satu bentuk mengacuhkannya atau bisa jadi termasuk orang yang terkunci mata hatinya.

 ” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ketiga, tidak mengaplikasikannya dengan mengamalkan segala perintah dan menjauhi semua larangannya.

Kitab yang Agung ini tidak akan tampak keindahannya kecuali bila kandungannya diaplikasikan dalam realitas kehidupan. Bila seseorang menyesuaikan akhlaknya dengan akhlak Qur’ani, terpandanglah ia di mata manusia. Bila seseorang memegang teguh kewajiban Al-Qur’an, ia akan mulia selamanya. Bila seseorang menahan dirinya dari segala larangan dalam Al-Qur’an, kesuciannya senantiasa terjaga. Memberanikan diri selalu menyelisihi Al-Qur’an termasuk mengacuhkan Al-Qur’an. Hendaklah seorang menilai sejauh mana kepribadiannya dengan Al-Qur’an.

”Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43)

Keempat, berpaling darinya dengan menyibukkan diri dengan syair, nyanyian, permainan, dan obrolan.

Saat lidah kita lebih fasih melantunkan lagu atau lebih merdu saat menyanyikannya dibandingkan saat melantunkan Al-Qur’an, itu pertanda ada yang tidak beres dalam diri kita. Saat hati kita lebih terenyuh dengan syair atau lebih syahdu saat mendeklamasikannya, kita perlu bertanya pada diri kita. Puncaknya kita ternyata lebih antusias menyimak apapun selain Al-Qur’an. Ada apa dengan diri kita? Kenapa di ponsel kita, lebih banyak conten lagunya dibanding murattal? Kenapa koleksi dvd Al-Qur’an kita tidak sevariatif dvd lagu-lagu? Kenapa di rumah kita lebih sering diputar suara para biduan dibanding lantunan tilawah para imam?

Kelima, mengutamakan solusi selain solusi Qur’ani.

Sesungguhnya Al-Qur’an menawarkan kita berbagai solusi kehidupan. Lalu kenapa masih saja banyak yang menolak termasuk kaum Muslimin sendiri. Al-Qur’an dituduh sebagai kitab klasik yang tak relevan dengan zaman modern. Hukum-hukumnya tidak semaju hukum positif produk manusia. Sesungguhnya mengutamakan solusi Al-Qur’an merupakan usaha memuliakan Al-Qur’an. Sebaliknya mengutamakan solusi di luar itu, dipandang mengacuhkan Al-Qur’an.

” Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Jumat, 14 Februari 2014

Biografi KH Hasyim Asy`ari Sang Pendiri NU dan Pejuang Islam

KH Mohammad Hasyim Asy'ari, atau biasa disebut KH Hasyim Ashari beliau dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau kemudian tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. KH Hasyim Asyari merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Ashari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. KH Hasyim Ashari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Asharimerupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Ashari mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.
Ia merupakan pendiri Nahdlatul Ulama. Uniknya, bersama KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, ia pernah berguru kepada Syeikh Ahmad Chatib.
Jombang 1933. Dua ulama besar: KH Hasyim Asy’ari dan KH Mohammad Cholil terlibat dialog mengesankan. ”Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, panggilan popular kiai dari Madura itu. Kiai Hasyim menjawab, ”Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”
Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. ”Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.
Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.
Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kiai Hasyim juga Kiai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.
Mbah Cholil adalah kiai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan Madura ini.
Sedangkan Kiai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya, terutama dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kiai Hasyim punya ’tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian umat Islam.
Kiai Hasyim dikenal sebagai ulama pembaharu pesantren, Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Keturunan Raja Pajang
Lahir 24 Dzul Qaidah 1287 Hijriah atau 14 Februari l871 Masehi, Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis ibu, Halimah, Hasyim masih terhitung keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir alias Sultan Pajang, raja Pajang. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga kiai. Kakeknya, Kiai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kiai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kiai Cholil.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kiai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kiai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kiai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri.
Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.
Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bid’ah. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.
Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya.
Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.

Kiai Hasyim bukan saja kiai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kiai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kiai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya. Dari perkawinannya dengan Mafiqah, putri Kiai Ilyas, Kiai Hasyim dikarunia 10 putra: Hannah, Khoriyah, Aisyah, Ummu Abdul Hak (istri Kiai Idris), Abdul Wahid, Abdul Kholik, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah dan Muhammad Yusuf.

Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.

KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Tahun 1899, Kyai Hasyim Asy'ari membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf. Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.

Pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil. Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.” Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya. Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita. Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.

Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam. Maka tak heran bila pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kyai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim. Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.

Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.

Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu. Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda. Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas.

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum. Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an. Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang.

Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim. Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya.
Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai
 
Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan. Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.

Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta. Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut.

Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947. Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.

Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syaikh Mahfudh At Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru. Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam.

Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab.

Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional), dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan.

Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah. Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz.

Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kyai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama. Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia. Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional.

Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid hadratus Syaikh. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah. Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak dengan alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Mendirikan Nahdlatul Ulama (NU)

Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan. Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.

Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata. Waktu terus berjalan, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih menunggu kemantapan hati. Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah Kyai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kyai”.

Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru. ”Kyai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah. Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kyai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.

Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah.

Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912). Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para Kyai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini. Pada saat pendirian organisasi pergerakan kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode tahun 1937-1942).

Kamis, 13 Februari 2014

Cara Menghafal Alquran Untuk Anak

Memiliki anak yang hafal Al-Quran tentu sangat membanggakan di hadapan Allah, karena ia menjadi tabungan amal shalih kelak di akhirat. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah serius dalam menempuh cita-cita tersebut.

Pertama: Bagaimana kita mempersiapkan anak untuk menghafal al-Qur’an?

Proses penyiapan anak untuk hafal al-Qur’an terlihat pada beberapa poin berikut:

-          Menciptakan lingkungan rumah Qur’ani untuk anak. Dalam arti seorang anak tidak akan memberikan perhatian dan cintanya kepada al-Qur’an, selama tidak ada contoh dari keluarganya yang terdiri dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Oleh karena itu hendaknya kedua orangtua harus memulai menghafal dan mempelajari al-Qur’an terlebih dahulu. Pasti setelah itu anak akan belajar dari mereka. Dan hendaknya ada jadwal-jadwal khusus membaca al-Qur’an walaupun hanya beberapa rubu’ (seperempat halaman) saja sehari. 

   Orangtua harus berusaha menghafal al-Qur’an beberapa juz dari al-Qur’an dan konsisten dengannya. Mereka bisa menghafal 10 ayat dalam sepekan dengan berusaha untuk menyetorkan juz yang dihafalkannya itu kepada orang lain. Atau bisa saling berlomba siapa yang bisa menyesaikan juz yang sedang dihafal terlebih dahulu. Dan itu dilakukan dengan disaksikan anak-anak mereka. Bisa juga dilakukan di depan seorang qori atau pakarnya. Entah di rumah atau di masjid. Anak-anak juga harus dibiasakan diajak ke masjid agar mereka juga terbiasa melakukannya. Perlu juga kita ingatkan bahwa hafalan al-Qur’an harus diiringin dengan amal. Sehingga perilaku kedua orang tua sejalan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Para sahabat dahulu tidak sampai melewati 10 ayat al-Qur’an sampai mereka bisa mengamalkan apa yang mereka hafal.

-          Kedua orangtua saling memberi hadiah ketika keduanya menyelesaikan juz yang telah dihafal. Dan hendaknya anak-anak juga mengetahuinya. Atau kalau bisa juga turut serta membelikan hadiah untuk keduanya.

-          Kedua orangtua konsisten mendengarkan program-program radio atau mendengarkan rekaman-rekaman kaset (atau yang lainnya) dan mendiskusikannya di depan anak-anak. Nah dari sini keduanya bisa mengembangkan skill pendengaran pada anak.

-          Memperdengarkan kepada anak suara kaset-kaset rekaman salah seorang qori terkenal dan memiliki suara dan bacaan yang bagus ketika mereka sedang mengerjakan hal-hal yang mereka senangi seperti menggambar (melukis) atau mewarnai.

-          Menggunakan rekaman-rekaman hafalan al-Qur’an di komputer sehingga akan membangkitkan keinginan anak duduk di depan komputer dan melatihnya mengikuti ayat-ayat yang hendak dihafal.

-          Memperkenalkan anak dengan al-Qur’an yang mulia ini. Misalnya tentang kisah turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah saw, jumlah juz-juz dan surat-surat di dalamnya. Serta menceritakan kepadanya beberapa kisah-kisah al-Qur’an seperti kisah dalam surat al-Baqoroh, dua orang pemilik kebuh dan kisah-kisah para nabi.

Kedua: Kapan Seorang Anak Mulai Menghafal Al-Qur’an?

                Sebagian orang mengatakan bahwa anak mulai bisa menghafal al-Qur’an sejak usia 3 tahun. Sementara yang lain mengatakan pada usia empat tahun. Tapi saya yakin menghafal bisa dilakukan sebelum itu dan semuanya tergantung dari pengalaman. Oleh karena itu banyak anak-anak yang cerdas sepanjang sejarah yang telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an di usia-usia ini. Sebagian mereka ada yang hafal pada usia 5 tahun. Dan ini tergantung dari kondisi individunya. Perlu kita ketahui bahwa Allah tidak membeban suatu jiwa melainkan apa yang ia sanggupi. Untuk anak anda hendaknya anda memperhatikan hal-hal berikut: 

·         Kenali sejauh mana kemampuan anakmu dalam mengafal. Pada umumnya, setiap ibu pasti tahu apakah anaknya cepat dalam menghafal, kuat ataukah lemah memorinya? Apabila sekarang anda belum mengenal, maka kenalilah saat ini juga. Apabila anda sudah mengetahui bahwa dia cepat dalam menghafal atau sudah bagus hafalannya –dan itu bisa dilihat dari kemampuannya menyanyikan nasyid-nasyid, lagu-lagu yang ia lihat di TV, radio atau rekaman-rekaman lainnya, maka yang harus anda lakukan adalah:

·         Buatlah perencaaan bersama suami (rencana tahunan, bulan, pekanan dan harian menghafal al-Qur’an) dalam sebuah jadwal yang dipantau oleh mereka misalnya dalam menyelesaikan 6 juz dalam setahun. Atau menyelesaikan hafalan al-Qur’an seluruhnya dalam 5 tahun Insya Allah. Anak bisa menghafal 20-25 ayat dalam sepekan atau sekitar seperempat hizb. Ada orang yang bisa menghafal lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah kadar di atas agar tidak menjadi beban atau kesulitan. Tapi ada juga orang yang tidak memperhatikan ini semua. Tapi saran saya jangan ada paksaan dalam hal ini. Sesuatu yang sedikit tapi tetap dilakukan secara rutin lebih baik dari pada banyak tapi terputus-putus, tidak ada berkah dan cepat lupa karena tidak dijaga.

·         Anak memulai hafalannya dari juz Amma.
·         Anak mendengarkan sampai juz yang sudah ditentukan dalam sehari melalui kaset rekaman 4-5 ayat. Bisa jadi ayatnya akan lebih apabila ayat-ayat yang hendak dihafal adalah ayat-ayat pendek. Dan itu bisa dibiasakan saat sedang mewarnai atau menggambar. Kita tidak harus memaksakan anak duduk mendengarkan ayat-ayat yang akan dihafal dan mengulang-ulanginya.

·         Pada akhir pekan kita bisa melihat ayat-ayat al-Qur’an sudah mulai melekat di benaknya. Akan tetapi hanya butuh pengikatan saja pada ayat-ayatnya. Nah saat itu usahakan anak diajak pergi ke masjid untuk melihat anak-anak lainnya yang juga sedang melakukan apa yang ia lakukan. Dan ini akan membangkitkan semangat perlombaan. “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Qs al-Mutaffifin: 26). Hendaknya anak difokuskan di bawah penanganan seorang guru yang spesialis. Apabila belum memungkinkan, maka ayahnya bisa melakukan hal itu. Dan itu dilakukan pada setiap akhir pekan (weekend). Caranya, anak duduk di depan ayahnya, lalu ayahnya membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian anaknya mengikutinya. Dan umumnya aktifitas ini hanya memakan waktu 20 menit saja. Seyogyanya ini dilakukan secara terus-menerus dan jangan sampai meninggalkannya sampai anak benar-benar melakukannya dengan baik. Ini dilihat dari satu sisi. Dari sisi lainnya, agar terbentuk pada anak kebiasaan membaca al-Qur’an, menjaga, memelihara dan mencintainya. Akan lebih bagus lagi apabila kegiatan ini dilakukan dengan sesuatu yang disukai anak, misalnya mengajaknya jalan-jalan atau rihlah di akhir pekan. Saya tidak bermaksud mengajaknya rihlah atau jalan sebagai syarat ia menghafal. Sebagaimana saya juga mengingatkan keharusan membangkitkan semangat kegembiraan dan gairah terhadap kegiatan ini tanpa mengurangi sedikitpun perasaan menghormati dan menjunjung tinggi dari yang dibaca.

·         Mengapresiasi anak ketika ia bisa melakukan hafalannya lebih cepat dengan kata-kata yang baik, penuh pujian dan mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya itu akan membahagiakan kedua orangtuanya sebelum ia mendapatkan ridho dari Tuhannya. Atau bisa juga dengan mentraktirnya makan di luar rumah.
·         Mengadakan pesta setelah ia berhasil menghafal satu juz.

·         Agar hafalan al-Qur’an tidak mudah hilang, maka kita harus menjaganya dengan murojaah secara berkesinambungan. Anak harus melakukan murojaah hafalannya setiap pekan dengan cara yang sudah saya sebutkan di atas. Ia juga harus melakukan murojaah bulanan. Murojaah dilakukan dengan mendengarkan kembali ayat-ayat yang dihafal pada 3 hari terakhir dalam sebulan, lalu dengan cara yang juga disebutkan sebelumnya. Seorang ayah hendaknya menyimak hafalan anak di sela-sela bulanan. Akan lebih bagus lagi apabila proses murojaah ini dilakukan dalam bentukmusabaqoh (perlombaan) yang diadakan, misalnya di masjid dan memberikan hadiah-hadiah secara simbolis.

·         Berperan sebagai pengganti guru tahfiz -ini berfungsi sebagai motivasi bagi anak yang pandai dalam tilawah al-Qur’an dan hafal beberapa juz al-Qur’an secara itqon. Seperti misalnya dengan cara menjadi guru tahfiz pada juz ini bagi siapa saja yang belum hafal di antara saudara-saudaranya atau teman-temannya di masjid dengan syarat berada dalam bimbingan ayah atau seorang syekh di masjid.

Ketiga: Bagaimana Mengatasi Rasa Bosan?

                Jarang sekali rasa bosan hinggap dalam jiwa seorang anak ketika ia menghafal, kalau kita mengikuti metode yang lalu. Karena kita tidak menganjurkannya ia untuk banyak duduk dan mengulang-ulang kecuali hanya satu kali saja sepekan. Itu juga dikarenakan hafalan sudah melekat di dalam dirinya dengan sesuatu yang ia senangi. Adapun apabila ada sesuatu yang meresap seperti futur (patah semangat) atau bosan, maka kita harus membahas dalam beberapa perubahan, misalnya:

·         Apabila anak dihinggapi rasa futur maka pertama kali janganlah kedua orang tua memperlihatkan perhatiannya akan hal itu. Akan tetapi keduanya tetap fokus pada cara yang dilakukan (membaca al-Qur’an harian, hafalan dan mengkhatamkan tilawah dan seterusnya). Jangan sampai jadwal keduanya berubah, merubah metode yang digunakan atau memperlihatkan kesedihan terhadap anak yang futur menghafal. Tapi mereka harus terus menyibukkan rekaman-rekaman ayata al-Qur’an kepada anak sebelum tidur.

·         Hendaknya seorang anak belajar menyibukkan sendiri ayat-ayat yang akan dihafal melalui rekaman. Kemudian melakukan kegiatan menggambar, mewarnai atau membantu ibunya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dalam keadaan tetap mendengarkan ayat.

·         Masjid mengadakan program rihlah khusus. Di perjalanan anak-anak selalu diperdengarkan ayat-ayat –kalau bisa- untuk memastikan hafalan al-Qur’an mereka. Hal itu juga bisa dilakukan di mobil ketika pergi dalam salah satu rihlah keluarga di akhir pekan. Orangtua seyogyanya menjadi teladan dalam hal ini. Ayah meminta ibu untuk mengulangi ayat-ayat yang sudah dihafal dan sebaliknya ayah juga melakukan hal yang sama. Kemudian anak.

Keempat: Bagaimana kita membantu meningkat konsentrasi pada anak?

                Apabila anak anda tidak bisa menghafal dengan baik, maka anda harus mengikuti cara-cara sebelumnya dan anda harus:

a.       Membuat planning menghafal yang sesuai dengan kemampuan anak, misalnya menghafal rubu hizb (seperempat hizb) dalam dua minggu sebagai ganti dari seminggu.
b.      Mengulang-ulang ayat lebih dari sekali sebelum tidur. Hendaknya ini menjadi terakhir dari apa yang ia dengar sebelum tidur.
c.       Tidak membentak anak apabila lambat dalam menghafal.
d.      Memberikan apresiasi setiap kali ia bisa menghafal lebih cepat.
e.      Menambah jumlah ayat yang hendak dihafal dalam sehari sebagai ganti dari 2 ayat. Jadikan ia 4 ayat. Teslah anakmu bagaimana responnya dengan penambahan ini. Apabila tidak terjadi kesalahan apapun, teruskanlah ia untuk melakukan cara-cara itu. Jika ia tidak bisa menjawab (pertanyaan), kembalilah ke peraturan yang ia sanggupi.
f.        Bagilah ayat-ayat yang panjang menjadi beberapa penggal sampai bisa memudahkan hafalan.

Dan terakhir saya menasehi rekan-rekan pemerhati tarbiyyah untuk bersabar dan tabah. Karena ini adalah kunci kesuksesan hakiki bagi anak.

         Melihat dari pentingnya masalah pendidikan Al-Quran ini kepada masyarakat, maka ada beberapa masalah yang akan diberikan solusinya melalui Pendirian Lembaga ini:
  1. Kurangnya kepedulian anak-anak dan remaja pada pendidikan Al-Quran, karena sibuk pada kegiatan Sekolah Umum.
  2. Ketidakmampuan membaca Al-Quran karena tidak adanya bimbingan secara khusus dengan metode yang tepat guna.
  3. Anggapan bahwa menghafal Al-Quran itu sangat sulit, dan butuh waktu sangat lama untuk dapat menghafalnya.
  4. Anggapan bahwa menjaga Al-Quran itu tidak penting dan tidak menjanjikan masa depan.

Selasa, 11 Februari 2014

Rukun dan Sunnah Mandi Junub-Besar

Tata Cara Mandi Wajib
Mandi wajib disebabkan karena sesuatu yang menyebabkan kita diwajibkan untuk mandi junub atau mandi besar, hal hal yang menyebabkan mandi wajib yaitu :
  1. Karena Haid
  2. Karena Habis Melahirkan
  3. Karena Mengeluarkan Mani 
  4. Bersetubuh


Fardhu Mandi
  • 1. Niat . (bersamaan dengan mula-mula membasuh tubuh)
Lafazh Niat :
doa mandi wajib
Nawaitul-ghusla li raf’il-hadatsil-akbari fardhai lii-laahi ta’aalaa
Artinya :
“AKu niat mandi wajib untuk menghilangkan fardhu karena Allah“
  • 2. Membasuh seluruh badannya dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit  tanpa ada yang terlewat
  • 3. Menghilangkan najis pada tubuh
Sunah Mandi
  • 1. Mendahulukan membasuh semua kotoran dan najis yang ada di badan
  • 2. Membaca ” Bismillaahir-rahmaanir-rahiim” pada awal mandi
  • 3. Menghadap kiblat sewaktu mandi dan mendahulukan bagian kanan dari pada kiri
  • 4. Membasuh badan sampai 3x (tiga kali)
  • 5. Membaca doa sebagaimana membaca doa sesudah berwudhu
  • 6. Mendahulukan mengambil air wudhu, yakni sebelum mandi disunakan berwudhu terlebih dahulu

Senin, 10 Februari 2014

Doa-Doa Sunnah

Salah satu contoh cerita yang sangat termasyur. Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. diriwayatkan bahwa pada suatu hari Salah satu contoh cerita yang sangat termasyur. Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW memasuki masjid. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah duduk lama di dalam masjid, pemuda itu bernama Abu Umamah. Rasulullah SAW bertanya kepadanya : "Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid pada waktu-waktu di luar shalat?" Abu Umamah menjawab, "Aku sedang dilanda kesusahan dan dililit hutang-hutang wahai Rasulullah." Rasulullah kemudian bersabda kepadanya, "Ketauhilah aku akan mengajarkan kepadamu ucapan yang apabila engkau mengucapkannya, maka Allah SWT akan menyingkirkan kesedihan dan membayarkan hutang-hutangmu. Ucapkanlah pada waktu pagi dan sore."

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ


"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia." Kata Abu Umamah radhiyallahu 'anhu: "Setelah membaca do'a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas semua hutangku." (HR Abu Dawud 4/353)

Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan. Di dalam doa tersebut terdapat beberapa permohonan agar Allah ta’aala lindungi seseorang dari beberapa masalah dalam hidupnya. Dan segenap masalah tersebut ternyata sangat berkorelasi dengan keadaan seseorang yang sedang dililit hutang.

Doa-Doa Dalam Alquran

Di bawah ini beberapa hal utama yang sebaiknya kita panjatkan dalam do’a kita, disertai dasar dari ayat al-Qur’an yang relevan.

1. Mohon dijauhkan dan dijaga dari pengaruh Syaitan

رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٲتِ ٱلشَّيَـٰطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ


Dan Katakanlah: "Wahai Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu’minun: 97-98)



2. Mohon ditambahkan Ilmu

رَّبِّ زِدۡنِى عِلۡمً۬ا

"Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)



3. Mohon diampuni karena berlebihan dalam pekerjaan

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِىٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

"Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Ali Imran: 147)



4. Mohon diberikan Kesabaran

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرً۬ا وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ


"Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)". (QS. (Al-A’raf: 126)



5. Mohon diberi Keteguhan Pendirian

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرً۬ا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

"Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250)



6. Mohon dilapangkan dada dan dimudahkan dalam setiap urusan

رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِى صَدۡرِى وَيَسِّرۡ لِىٓ أَمۡرِى وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةً۬ مِّن لِّسَانِى يَفۡقَهُواْ قَوۡلِى

"Wahai Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25-28)



7. Mohon diampuni Dosa diri sendiri, Orang tua, dan Orang-orang beriman

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيً۬ا يُنَادِى لِلۡإِيمَـٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّا‌ۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَڪَفِّرۡ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ

"Wahai Rabb kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (QS. Ali Imran: 193)

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِى وَلِوَٲلِدَىَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ

"Wahai Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim: 41)



8. Mohon ditunjukan jalan bersyukur dan beramal shaleh yang diridhai

رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ

"Wahai Rabbku, tunjukilah aku agar mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaf: 15)



9. Mohon tidak dibebani melebihi kemampuan

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرً۬ا كَمَا حَمَلۡتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ‌ۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ‌ۚ أَنتَ مَوۡلَٮٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ


"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah : 286)



10. Mohon kebaikan di dunia dan akhirat

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari adzab Neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201)



Demikian 10 poin utama yang sebaiknya kita mohonkan kepada Allah disaat kita berdo’a, selebihnya kita bisa memohon hal-hal lainnya
wa sholallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi ajma'in. 

Minggu, 09 Februari 2014

Tokoh-Tokoh Tasawuf

Pengertian Tasawuf